Jumat, 22 Agustus 2008
Aksi kuat ibadah Taat prestasu Hebat
Akulah manusia yang mencari makna
dan hakikat kemanusiaanya ditengah
manusia. Akulah patriot yang berjuang,
menegakkan kehormatan, kebebasan,
ketenangan dan kehidupan yang lebih
baik bagi tanah air di bawah naungan
islam yang hanif.
Akulah lelaki bebas yang telah mengetahui
rahasia wujudnya, maka akupun berseru:
sesungguhnya shaltku, ibadahku, hidup dan
matiku hanya untuk allah, Tuhan semesta
alam yang tiada sekutu bagiNya.
Kepada yang demikisan aku di perintahkan
dan aku termasuk orang-orang yang berserah
diri. Inilah aku, dan kamu? kamu sendiri SIAPA? (Hasan Al Banna)
KAMMI EMPATI karena KAMMI BERAKSI
Jumat, 08 Agustus 2008
Setahun yang lalu, tanggal 29 Juli 2007, seorang ikhwah yang disiapkan menjadi mas’ul dakwah kampus meninggalkan forum musyawarah komisariat tepat sebelum pemilihan itu dilakukan. Ada kekecewaan pada sebagian ikhwah dan juga murabbinya, mengapa ia memilih meninggalkan forum itu meskipun ada alasan yang bisa diterima saat itu.
Setahun kemudian, tanggal 6 Juli 2008, ia yang menjadi harapan –sekali lagi- untuk menjadi mas’ul justru sama sekali tidak menghadiri forum itu. Jika tahun lalu masih ada alasan yang disampaikan, tidak begitu untuk tahun ini. Jika tahun lalu hanya meninggalkan sesi terakhir (saat pemilihan), tahun ini bahkan tidak hadir sama sekali. Jika tahun lalu seorang murabbi mampu mengalahkan kekecewaannya dengan toleransi yang lebih tinggi, maka tahun ini kekecewaan itu tidak menemukan obatnya sama sekali.
Kegagalan Seorang Murabbi
Ikhwati fillah, dalam tarbiyah kita tidak pernah diajari untuk menyalahkan orang lain. Bahkan kita diperintahkan untuk selalu husnudhan pada saudara kita. Jika ada satu problematika, pertanyaan yang harus hadir bukanlah siapa yang salah, tetapi pertanyaan pertama haruslah kita arahkan pada diri kita sendiri. “Apa saham yang telah saya tanam sehingga problematika itu muncul”, “Apa yang harus saya lakukan agar kesalahan yang sama tidak terulang?”, dan “Apa peran saya dalam menyelesaikan problematika ini?”
Maka, yang kemudian disadari adalah kelemahan pribadi sebagai seorang murabbi. Ya, pada aspek ini seorang murabbi telah gagal. Ia mungkin telah sukses –dengan izin Allah- memahamkan beratnya amanah sehingga seorang ikhwah harus berhati-hati dalam memegang amanah dan mengembannya dengan penuh tanggung jawab. Ia mungkin berhasil –dengan izin Allah- pada saat menanamkan nilai “wa innahaa yaumal qiyaamati khizyun wa nadaamah..” sehingga tidak lagi ada ambisi untuk mendapatkannya. Ia mungkin telah mampu –dengan izin Allah- mempertahankan keikhlasan mutarabbi dalam memandang amanah. Namun, ia gagal dalam membangun semangat kepemimpinan. Ia gagal dalam membangkitkan ruhul istijabah. Ia gagal dalam menanamkan motivasi meraih “ahabbul khalqu ilallaahi imaamun ‘aadilun”.
Mengapa ia berkesimpulan seperti itu? Sebab ia sadar ada ketidakproporsionalan ketika ia menyampaikan madah tarbiyah. Ada ketimpangan intensitas antara “wa innahaa yaumal qiyaamati khizyun wa nadaamah..” dengan “ahabbul khalqu ilallaahi imaamun ‘aadilun”. Terlalu kuat penekanan keikhlasan dan kehati-hatian dibandingkan dengan kesiapan sami’na wa atha’na dalam menjalankan amanah dari jama’ah. Intensitas taujih “tidak boleh berambisi” jauh lebih tinggi dari pada “kesiapan memegang amanah”. Dan itu disadarinya saat ini.
Lalu Bagaimana Memandang Amanah Kepemimpinan
Ikhwah fillah, memang benar amanah kepemimpinan itu sangat berat. Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari r.a. berkenaan dengan masalah ini “Innahaa amaanah. Wa innahaa yaumal qiyaamati khizyun wa nadaamah, illaa man akhadzahaa bihaqqihaa, wa addal ladzii ‘alaihi fiihaa” –Sesungguhnya ia adalah amanah. Dan pada hari kiamat ia merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi yang melaksanakannya sesuai dengan haknya dan melaksanakan yang semestinya- [HR. Muslim]
Rasulullah juga memberikan garis petunjuk kepada kaum muslimin “Innaa laa nuwallii amranaa hadzaa man thalabahu” –Sesungguhnya kami tidak akan mengangkat seorang yang meminta jabatan untuk suatu urusan yang ada pada mereka- [HR. Bukhari-Muslim]
Hadits di atas memang memperingatkan kita semua untuk tidak berambisi dengan kepemimpinan. Namun tidak berarti melarang kita menolak amanah yang diberikan kepada kita, terlebih ketika jamaah memutuskannya melalui mekanisme syuro. Justru, ketika kita meninggalkan amanah padahal tidak ada orang lain yang ahli dalam masalah itu, kita harus takut dengan peringatan Rasulullah “Apabila amanat itu disia-siakan, maka tunggulah datangnya kiamat. Dikatakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, apakah maksud menyia-nyiakan amanat itu?” Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila perkara itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya Kiamat!” [HR. Bukhari]
Di sinilah letak tawazunitas seorang muslim –terlebih kader dakwah- dalam memandang amanah. Amanah memang berat, dan tidak boleh diminta apalagi berambisi mendapatkannya, namun tidak pula boleh dihindari terlebih ketika jamaah yang memutuskan. Di satu sisi kita harus membersihkan hati kita dari niat mendapatkan jabatan/amanah apapun, di sisi lain kita harus siap tatkala jamaah menunjuk kita. Abu Bakar tidak pernah menginginkan menjadi khalifah, namun ketika kaum muslimin membaiatnya, ia pun menjadi khalifah terbaik bagi kaum muslimin. Umar takut dengan amanah, namun ketika Abu Bakar menunjuknya ia siap dengan segala prestasi yang dibadikan sejarah. Pun pada masa dakwah kita. Hidayat Nur Wahid semula bahkan tidak bersedia memimpin partai dakwah, namun setelah jamaah memutuskannya, perkembangan pesat dakwah pun bisa kita saksikan di bawah kepemimpinannya.
Ya Allah, ampuni kami, ampuni segala kesalahan kami. Maafkanlah segala kekurangan kami, kuatkanlah kami yang penuh kelemahan, bimbinglah kami yang sering mengalami kegagalan. Jadikanlah hati ini ikhlas kepadaMu dan jadikanlah dengan keikhlasan itu mengubah paradigma amanah pada saudara kami, sesuai petunjukMu. Aamiin.
